Minggu, 26 Juni 2011

ISLAM NORMATIF DAN ISLAM HISTORIS

A. Pengertian Islam Normatif dan Islam Historis
Islam normatif adalah islam pada dimensi sakral yang diakui adanya realitas transendetal yang bersifat mutlak dan universal, melampaui ruang dan waktu atau sering disebut realitas ke-Tuhan-an.
Islam historis adalah islam yang tidak bisa dilepaskan dari kesejarahan dan kehidupan manusia yang berada dalam ruang dan waktu. Islam yang terangkai dengan konteks kehidupan pemeluknya. Oleh karenanya realitas kemanusiaan selalu berada dibawah realitas ke-Tuhan-an.
Pada umumnya normativitas ajaran wahyu dibangun, diramu, dibakukan dan ditelaah lewat berbagai suatu pendekatan doktrinal teologis. Sedangkan historisitas keberagaman manusia ditelaah lewat berbagai sudut pendekatan sosial-keagamaan yang bersifat multi dan interdisipliner, baik lewat pendekatan historis, filosofis, psikologis, sosiologis, kultural maupun antropologis.

B. Kajian Islam
Memahami kitab suci (misalnya Alquran) tidak bisa dilepaskan dari konteks historisnya, dan tak berhenti pada teksnya saja. Teks harus diinterprestasikan berdasar konteks dari turunnya teks. Melepaskan teks dari konteks historisnya mengakibatkan kita berhadapan dengan teks yang kosong,memahami teks hanya terbatas pada teks akan melahirkan pemahaman yang kering dan menjebak pada perdebatan linguistic semata dan akhirnya mengaburkan dimensi spiritualis yang melatar belakangi proses historis dari turunnya teks itu sendiri.
a. Pendekatan Normatif
Sebuah pendekatan yang lebih menekankan aspek normatif dalam ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam Alqur’an dan Sunnah. Dalam pandangan islam normatif kemurnian islam dipandang secara tekstual berdasarkan Alqur’an dan Hadits selain itu dinyatakan bid’ah.
Kajian islam normative Melahirkan tradisi teks : tafsir, teologi, fiqh, tasawuf, filsafat.
• Tafsir: tradisi penjelasan dan pemaknaan kitab suci
• Teologi : tradisi pemikiran tentang persoalan ketuhanan
• Fiqh : tradisi pemikiran dalam bidang yurisprudensi (tata hukum)
• Tasawuf : tradisi pemikiran dan laku dalam pendekatan diri pada Tuhan
• Filsafat : tradisi pemikiran dalam bidang hakikat kenyataan, kebenaran dan kebaikan
b. Pendekatan Historis
Dalam pemahaman kajian islam historis, tidak ada konsep atau hukum islam yang bersifat tetap semua bisa berubah. Kaum historis memiliki pemahaman tentang hukum islam yang mana hukum islam itu adalah produk dari pemikiran ulama yang muncul karena konstruk social tertentu. Dalam kajian islam historis ditekankan aspek relitivitas pemahaman keagamaan. Pemahaman manusia terhadap ajaran agamanya adalah bersifat relatif dan terkait dengan konteks budaya social tertentu.
Kajian islam historis melahirkan tradisi atau disiplin studi empiris: antropologi agama, sosiologi agama, psikologi agama dan sebagainya.
• Antropologi agama: disiplin yang mempelajari tingkah laku manusia beragama dalam hubungannya dengan kebudayaan
• Sosiologi agama: disiplin yang mempelajari sistem relasi sosial masyarakat dalam hubungannya dengan agama
• Psikologi agama: disiplin yang mempelajari aspek-aspek kejiwaan manusia dalam hubungannya dengan agama

C. Fenomena islam Historis
Dalam pemahaman kajian Islam historis, tidak ada konsep atau hukum Islam yang bersifat tetap. Semua bisa berubah. Mereka berprinsip: bahwa pemahaman hukum Islam adalah produk pemikiran para ulama yang muncul karena konstruk sosial tertentu. Mereka menolak universalitas hukum Islam. Akan tetapi, ironisnya pada saat yang sama, kaum gender ini justru menjadikan konsep kesetaraan gender sebagai pemahaman yang universal, abadi, dan tidak berubah. Paham inilah yang dijadikan sebagai parameter dalam menilai segala jenis hukum Islam, baik dalam hal ibadah, maupun muamalah.
Islam historis merupakan unsur kebudayaan yang dihasilkan oleh setiap pemikiran manusia dalam interpretasi atau pemahamannya terhadap teks, maka islam pada tahap ini terpengaruh bahkan menjadi sebuah kebudayaan. Dengan semakin adanya problematika yang semakin kompleks, maka kita yang hidup pada era saat ini harus terus berjuang untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran untuk mengatasi problematika kehidupan yang semakin kompleks sesuai dengan latar belakang kultur dan sosial yang melingkupi kita, yaitu Indonesia saat ini. Kita perlu pemahaman kontemporer yang terkait erat dengan sisi-sisi kemanusiaan-sosial-budaya yang melingkupi kita.
Perbedaan dalam melihat Islam yang demikian itu dapat menimbulkan perbedaan dalam menjelaskan Islam itu sendiri. Ketika Islam dilihat dari sudut normatif, maka Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan yang berkaitan dengan urusan akidah dan mu’amalah. Sedangkan ketika Islam dilihat dari sudut histories atau sebagaimana yang nampak dalam masyarakat, maka Islam tampil sebagai sebuah disiplin ilmu (Islamic Studies).
Sejarah atau histories adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsure tempat, waktu, obyek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Melalui pendekatan sejarah seorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat emiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan histories.Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena gama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi social kemasyarakatan.

D. Hubungan antara islam Normatif dan Historis
Hubungan antara keduanya dapat membentuk hubungan dialektis dan ketegangan. Hubungan Dialektis terjadi jika ada dialog bolak-balik yang saling menerangi antara teks dan konteks. sebaliknya akan terjadi hubungan ketegangan jika salah satu menganggap yang lain sebagai ancaman
Menentukan bentuk hubungan yang pas antara keduanya adalah merupakan separuh jalan untuk mengurangi ketegangan antara kedua corak pendekatan tersebut. Ketegangan bisa terjadi, jika masing-masing pendekatan saling menegaskan eksistensi dan menghilangkan manfaat nilai yang melakat pada pendekatan keilmuan yang dimiliki oleh masing-masing tradisi keilmuan.
Menurut ijtihad, Amin Abdullah, hubungan antara keduanya adalah ibarat sebuah koin dengangan dua permukaan. Hubungan antara keduanya tidak dapat dipisahkan, tetapi secara tegas dan jelas dapat dibedakan. Hubungan keduanya tidak berdiri sendiri-sendiri dan berhadap-hadapan, tetapi keduanya teranyam, terjalin dan terajut sedemikian rupa sehingga keduanya menyatu dalam satu keutuhan yang kokoh dan kompak. Makna terdalam dan moralitaskeagamaan tetap ada, tetap dikedepankan dan digaris bawahi dalam memahami liku-liku fenomena keberagaman manusia, maka ia secara otomatis tidak bisa terhindar dari belenggu dan jebakan ruang dan waktu.

E. Kesimpulan
Islam normatif merupakan Islam pada dimensi sakral, Islam ideal atau yang seharusnya, Islam sebagai realitas transendental, yang bersifat mutlak dan universal, melampaui ruang dan waktu atau sering disebut sebagai realitas ke-Tuhan-an. Sedangkan islam historis merupakan islam yang tidak bisa dilepaskan dari kesejarahan dan kehidupan manusia yang berada dalam ruang dan waktu, Islam yang senyatanya, yang terangkai oleh konteks kehidupan pemeluknya, dan berada di bawah realitas ke-Tuhan-an.
Hubungan diantara keduanya dapat berbentuk dialektis maupun ketegangan. Perlu kiranya dikaji dan ditelaah ulang secara kritis-analitis-akademis dan sekaligus dialektis sesuai denga kaidah keilmuan historis-empiris pada umumnya. Dengan demikian hubungan antara kedunaya terasa hidup, segar, terbuka, open ended dan dinamis.

Daftar Pustaka

Abdullah, Amin. 1996. Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Muqowim dkk.2005. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga

Yusuf, Mundzirin dkk. 2005. Islam dan Budaya Lokal. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga

Selasa, 23 November 2010


Rasa keingintahuan.
*Engkau dapat memberikan satu pelajaran pada seorang murid dalam satu hari, tetapi jika engkau mengembangkan rasa keingintahuan pada dirinya, maka dia akan terus menerus belajar selama dia hidup*Mt
Ketika kita diberi tahu tentang suatu pelajaran ataupun informasi, kita pada saat itu akan tahu dan mnegerti terlebih jika pelajaran itu disampaikan dengan jelas dan menarik tentunya kita dapat lebih cepat paham dan mengerti. Kita juga menyadari dengan kita tahu dan apaham maka kita akan merasa puas dan berhenti bertanya, terlebih jika informasi yang diberikan sangat mendetail dan jelas, tentunya menyulitkan kita untuk mencari pertanyaan ya… karena memang sudah jelas. Sehingga jika ditanya oleh guru,”sudah paham?” sudah….. itu jawabannya. “ada pertanyaan?’, tidak… ya karena sudah jelas, apa yang mau ditanyakan.
Tapi alangkah lebih baik dan bijaknya jika kita diberi informasi dan pengetahuan yang menimbulkan rasa keingintahuan. Sehingga tidak hanya paham dan mengerti melainkan menimbulkan rasa keingintahuan lebih mendalam tentang hal tersebut. Sehingga menimbulkan keinginan kita untuk terus belajar dan tahu lebih dalam. Sehingga kita akan dapat pengetahuan dari sepanjang perjalanan kita dalam menjawab rasa keingin tahuan kita.

Senin, 08 November 2010


Gaya/Tipe Tipe Kepemimpinan
Abdul Qodir Jaelani

Latar belakang
Lembaga pendidikan membutuhkan seorang pemimpin. Sebab pemimpin itulah sosok penggerak dan inspirator dalam merancang dan mengerjakan kegiatan. Pemimpin tidak hanya seorang manajer, ia juga harus seorang pembangun mental, moral spirit, dan kolektivitas kepada jajaran bawahannya. Seorang pemimpin seyogyanya tidak hanya menggunakan aturan tertulis, tapi juga sikap perilaku, sepak terjang, dan keteladanan dalam melakukan agenda transformasi kearah yang lebih baik.
Dalam menjalankan kepemimpinan, antara pemimpin satau dan lainnya tidaklah selaulu sama bahkan berbeda. Sehingga para pemipin mempunyai gaya kepemimpinan yang berbeda beda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu perlu kiranya bagi seorang calon pemimpin mengetahui tipe-tipe kepemimpinan supaya ia dapat mengetahui berbagai tipe dan dapat menentukan tipe mana yang efektif dijalankan dalam sebuah lembaga tertentu. Dan perlu kiranya mengetahu kepemimpinan yang sesuai dengan pendidikan.

A. Pengertian Kepemimpinan
Pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain didalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sesuai dengan tugas-tugas yang dilaksanakannya.
Locke et al(1991) mendefinisan kepemimpinan sebagai proses membujuk orang lain untuk mengambil langkah menuju suatu sasaran bersama. Sementara itu George R. Terry mengatakan bahwa, kepemimpinan adalah hubungan dimana di dalamnya antara orang dan pemimpin saling mempengaruhi agar mau bekerjasama berbagi tugas untuk mencapai keinginan sang pemimpin.
Dari definisi-definisi diatas dapat ditarik suatu konklusi yang sama, bahwa masalah kepemimpinan adalah masalah sosial yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik itu dengan cara mempengaruhi atau membujuk. Dari sini dapat dipahami bahwa tugas seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuanya dalam melaksanakan program-program yang telah ada, tetapi lebih dari itu ia harus mampu melibatkan seluruh lapisan organisasinya atau masyarakatnya untuk turut andil berperan secara aktif, sehingga akan memberikan kontribusi yang positif pula.

B. Gaya Kepemimpinan
Untuk meningkatkan efektiftas kepemimpinan dengan cara menyesuaiakan situasi dan kebutuhan/motivasi para bawahan, Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya terjadi adanya suatu permbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya. Reddin (1987) mengemukakan beberapa gaya kepemimpinan yang efektif sebagai gaya kepemimpinan esklusif, otokratik, pembina/pengembang, dan gara kepemimpinan birokratik. Sedangkan G.R. Terry membagi tipe-tipe kepemimpinan dalam enam tipe, yaitu tipe kepemimpinan pribadi, non pribadi, otoriter, demokratis, paternalistik dan tipe kepemimpinan menurut bakat. Sedangkan menurut kurt lewin, tipe-tipe kepemiminan ada tiga yaitu otokratis, demokratis dan Laissez-faire.

Beberapa gaya dan tipe kepemimpinan akan dijelaskan secara singkat dibawah ini:

1. Gaya kepemimpinan eksklusif
yaitu pemimpin yang memperhatikan efektifitas, indvidualitas bawahan, dan kepentingan organisasi. Pemimpin ini bermotivasi tinggi, memperlakukan para bawahan sesuai individualitasnya msisng-masing, dan merupakan tim manajer.

2. Gaya kepemimpinan pembina/pengembang yang menekankan efektifitas dan individu bawahan. Pemimpin berusaha mengembangkan potensi setiap bawahannya.

3. Gaya kepemimpinan birokratik
yaitu pemimpin yang menekankan efektifitas atas dasar peraturan dan prosedur. Pemimpin sangat terikat oleh peraturan dan prosedur ini. Yang seringkali hanya efektif terhadap pelaksanaan peraturan dan prosedur, belum tentu efektif terhadap tujuan organisasi.

4. Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership)
Dalam sistem kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.

5. Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership)
Segala sesuatu kebijakan dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan.

6. Tipe kepemimpinan paternalistik
Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebaoakan dalam hubungan dalam hubungan pemimpin dengan kelompok. Tujuannya adlah untuk melindungi dan memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya. Adapun siaft-sifat pemimpin tipe paternalistik ialah:
- Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa
- Bersikap terlalu melindungi
- Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif dan mengambil keputusan
- Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengabil inisiatif dan mengambil keputusan
- Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembagkan daya kreasi dan fantasi
- Sering bersikap maha tahu

7. Tipe kepemimpinan menurut bakat (indegenous leadership)
Biasanya, kepemimpinan tipe ini timbul dari kelompok orang-orang informal, dimana mungkin mereka berlatih dengan adanya sistem kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan. Biasanya juga akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan diantara yang ada dalam kelompok tersebut menurut bidang keahliannya, dimana ia ikut berkecimpung.

8. Tipe kepemimpinan militeristik
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut :
- Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan
- Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya
- Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan
- Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
- Sukar menerima kritikan dari bawahannya
- Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

9. Tipe Kepemimpinan Otokratis
Pemimpin yang bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
- Sifat-sifat pemimpin yang otokratis:
- Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
- Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
- Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata
- Tidak mau menerima kritik, saran, dan pendapat
- Terlalu bergantung pada kekuasaan formalnya
- Dalam melakukan penggerakan sering mempergunakan pendekatan yang mengandung paksaan dan punitif (bersifat hukuman).

10. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sam dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya. Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai pottensi yang berharga dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.
Ciri-ciri pemimpin yang demokratis:
- Dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
- Selalu mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi para bawahannya
- Senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya.
- Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan
- Memberikan kebebasan seluas luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian dibimbing dan diperbaiki agar tidak lagi berbuat kesalahan yang sama
- Selalu berusaha menjadikan bawahannya lebih sukses darinya
- Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin

11. Tipe Kepemimpinan Laissez-faire
Pemimpin yang bertipe demikian segera menyerahkan sepenuhnya kepada bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggug jawabnya, setelah tujuan diterangkan kepadanya. Ia akan menerima laporan-laporan hasilnya dengantidak terlampau inisiatif. Semua pekerjaan tergantung pada inisiayif dan prakarsa dari para bawahan. Denandemikian, ia dianggap cukup dapat memberikan kesempatan pada para bawahannya untuk bekerja bebas tanpa hambatan.

12. Tipe Kepemimpinan Transformasional
Burn (1978) menjelaskan kepemimpinan transformasional sebagai suatu proses yang pada dasrnya para pemimpin dan pengikutnya saling menaikkan diri ketingkat moralitas dan motivasi yang tinggi. Para pemimpin adalah seorang yang sadar akan prinsip perkemangan organisasi dsn kinerja manusia sehingga ia berupaya mengembangkan segi kepemimpinannya secara utuh melalui pemotifasian terhadap setaf dan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral seperti kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan, bukan didsarkan pada emosi seperti mislanya keserakahan, kecemburuan, atau kebencian.
Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang memiliki wawasan jauh kedepan dan berupaya memperbaiki dan mengembangkan organisasi bukan untuk saat ini tapi masa dtang. Oleh karena itu pemimpin tranformasional adalah pemimpin yang dapat dikatakan pemimpin yang visioner.
Diantara karakteristik kepemimpinan transformasional ;
- Mempunyai kharisma yang telah diakuki oleh pengikutnya
- Menjadi sumber inspirasi bagi bawahannya dalam menciptakan etos kerja dan kinerja yang baik
- Mempunyai kepedulian dan empati terhadap bawahannya secara personal
- Mamapu menstimulasi pemikiran dan ide-ide bawahannya dengan baik.

13. Tipe Kepemimpinan Transaksional
Adalah kepemimpinan yang menekankan pada tugas yang diemban bawahan. Pemimpin adalah seorang yang men-design pekerjaan beserta mekanismenya, dan staf adalah seorang yang melasanakan tugas sesuai dengan kemmpuan dan keahlian.
Kepemimpinan transaksional lebih difokuskan pada peranannya sebagai manajer karena ia sangat terlibat dalam aspek-aspek prosedural manajerial yang metodologis dan fisik. Dikarenakan sistem kerja yang jelas dan merujuk kepada tugas yang diemban dan imbalan yang diterima sesuai dengan derajat pengorbanan dalam pekerjaan, maka kepemimpinan transaksional yang sesuai diterapkan ditengah-tengah staf yang belum matang, dan menekankan pada pelaksananaan tugas untuk mendapatkan intensif bukan pada katualisasi diri. Oleh karena itu kepemimpinan transaksional dihadapkan pada orang-orang yang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dari segi sandang , pangan, dan papan.
Diantara ciri-cirinya;
- Para pemimpin percaya bahwa orang lebih cenderung senang diarahkan.
- Dorongan kontingen dalam bentuk reward dan punishment yang telah disepakati dalam kontrak kerja
- Pemimpin enggan membagi pengetahuan kepada staf

14. Tipe Kepemimpinan Visioner
Kepemimpinan adalah hal penting dalam organisasi. Sebagaimana dikatakan rasulullah,”apabila keluar tiga orang dalam suatu perjalanan, hendaknya salah seorang mereka dijadikan pemimpin” (al hadits). Suatu organisasi memiliki kompleksitas, baik barang/jasa maupunide, menghadapi berbagai perubahan yang senantiasa melingkupi setiap saat, menghadapi berbagai karakteristik personel yang dapat mengembangkan maupun melelahkan. Hal ini akan menjadi alasan diperlukan orang yang tampil mngatur, memberi pengaruh, menata dan mendamaikan, memberi penyejuk, dan dapat menetapkan tujuan yang tepat saat anggota tersesat atau kebingungan menetapkan arah. Disinilah perlunya pemimpin yang melaksanakan kepemimpinan.

15. Kepemimpinan kharismatik
Yang telah diketahui oleh para sarjan sebab sebab pemipin itu kharismatik adalah bahwa pemimpin itu mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu.
Diantara karakteristik kepemimpinan kharismatik,
- Biasanya terdapat pad diri pemimpin agama, politik, dan gerakan sosial
- Memiliki kelebihan dan keutamaan karena anugerah tuhan, yaitu faktor bawaan sejak lahir yang dapat menumbuhkan kharisma. Memang ada diantara manusia yang dilahirkan dengan membawa gharizah (insting) dan potensi kepemimpinan yang kuat. Akat inilah yang kemudian ditumbuhkembangkan dan disalurkan kearah yang lebih baik, sehingga menjadi pemimpin yang sejati.
- Cenderung memiliki kebutuhan yang tinggi akan kekuasaan, rasa percaya diri, pendirian dalam keyakinan, dan cita-citanya.
- Membutuhkan kekuasaan sebagai motivasi dan wasilah untuk mempengaruhi pengikutnya
- Memiliki rasa percaya diri dan pendirian yang kuat, yang akan meningkatkan besarnya rasa percaya diri para pengikutnya terhadap pertimbangan, pendapat keputusan, dan kebijakan pemimpin tersebut.

16. Tipe developer dan tipe compromiser
Tipe developer/pembangun
sifatnya: kreatif, dinamis, inovatif, memberikan atau melimpahkan wewenang dengan baik, menaruh kepercayaan kepada bawahan.

Tipe kompromoser/kompromi
sifatnya: kurang tegas pendiriannya, tanpa pendirian, tidak mempunyai keputusan, berpandangan pendek dan sempit.

C. Kepemimpinan Pendidikan
Dalam konteks pendidikan, seorang pemimpin bisa melahirkan kebijakan yang progresif dan visioner. Ia juga mampu memastikan efektifitas dan produktifitas kebijakan yang diambil dengan parameter yang jelas. Ia kan selalu mendorong bawahannya dan mitra kerjanya untuk memahami visi dan misi yang telah ditetapkan, tidak sekedar formalitas kegiatan tanpa memahami spirit nilai yang terkandung didalamnya.
Kepemimpinan pendidikan yang diperlukan saat ini adalah kepemimpinan yang didasarkan pada jati diri bangsa yang hakiki yang bersumber dari nilai-nilai budaya dan agama, serta mampu mengatisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan khususnya dan umumnya atas kemajauan-kemajuan yang diraih diluar sistem sekolah.
Berdasarkan pada berbagai perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan, baik perubahan dalam manajemen maupun perubahan metodologi yang dirahkan bagi pembelajaran yang efektif, saat ini perlu dikembangkan kepemimpinan bervisi yang dapat mengakomodasi kebutuhan dan tuntutan pendidikan akan pemberdayaan dan kemandirian.
Dengan demikian, kepemimpinan pendidikan:
1. Memberikan kesempatan kepada anggota untuk berpartisipasi dalam proses perubahan guna merefleksikan praktek dan mengembangkan pemahaman personal tentang sifat dan implikasi perubahan terhadap diri mereka
2. Mendorng mereka terlibat dalam implementasi perbaikan untuk membentuk kelompok-kelompok social dan membangun tradisi saling mendukung selama proses perubahan
3. Membuka peluang feedback positif bagi semua pihak yang terlibat dalam perubahan
4. Harus sensitive terhadap uotcomes proses pengembangan dan menciptakan kondisi kondusif bagi feedback yang dibutuhkan, kemudian menindak lanjuti dengan melibatkan beberapa pihak dalam mendiskusikan ide-ide dan prakteknya.

Kesimpulan
Kepemimpinan adalah masalah sosial yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik itu dengan cara mempengaruhi atau membujuk
Semua tipe-tipe kepemimpinan mempunyai kelebihan dan juga kekurangan. Bagi dunia pendidikan kepemimpinan diharapkan tidak hanya menekankan pada asalah satu tipe tetapi dapat menyatukan berbagai kelebihan tipe kepemipinan. Developer, compromiser, demokratis, visioner, tarasformasional, dan yang penting juga kharismatik.

Daftar Pustaka
Al-Banjari, Rachmat Ramadhana. 2008. Prophetic Leadership. Yogyakarta : Diva Press
Asmani, Jamal Ma’mur. 2009. Manajemen Pengelolaan Dan Kepemimpinan Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Diva Press
Bush, Tony, dan Marianne Coleman. 2006. Manajeman Strategis Kepemimpinan Pendidikan. Terjemah Fahrurrozi. Yogyakarta: Ircisod
Fakih, Aunur Rohim, dan Iip Wijayanto. 2001. Kepemimpinan Islam. Yogyakarta : UII Press
Komariah, Aan, Dan Cepi Triatna. 2006. Visionary Leadership; Menuju Sekolah Efektif. Jakarta: Bumi Aksara
Handout leadership_